Review Buku Kuliah Akhlaq
BAB I. PENDAHULUAN
A.
Pengertian Akhlaq
Secara etimologis (lughatan) akhlaq(bahasa arab) adalah
bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah
laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Secara
terminologis (ishtilahan) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia,
sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan
pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan
dari luar.
Di samping istilah akhlaq, dikenal istilah etika dan moral. Ketiga
istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan
manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlaq
standarnya adalah al-qur’an dan sunnah; bagi etika standarnya pertimbangan akal
pikiran; dan bagi moral standarnya adat kebiasaan yang umum berlaku di
masyarakat.
B.
Sumber Akhlaq
Sumber akhlaq adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam konsep akhlaq,
segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk semata-mata karena syara’ (Al-Qur’an
dan Sunnah).
C.
Ruang Laingkup Akhlaq
1.
Akhlaq
Pribadi
2.
Akhlaq
Berkeluarga
3.
Akhlaq
Bermasyarakat
4.
Akhlaq
Bernegara
5.
Akhlaq
beragama
D.
Kedudukan dan Keistimewaan Akhlaq dalam Islam
1.
Rasulullah saw menempatkan penyempurnaan
akhlaq yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam.
Beliau bersabda, “ sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan
akhlaq yang mulia,” (HR. Baihaqi).
2.
Akhlaq
merupakan salah satu ajaran pokok agama islam
3.
Akhlaq
yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan.
4.
Rasulullah
saw menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
Rasulullah saw bersabda,
5.
Islam
menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dari ibadah kepada Allah swt.
Firman Allah swt, “... dan dirikanlah salat, sesngguhnya salat itu
mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-‘Ankabut 29:45).
6.
Nabi
Muhammad saw selalu berdo’a agar Allah swt membaikkan akhlaq beliau.
7.
Di
dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlaq.
E.
Ciri-ciri akhlaq dalam islam
1.
Akhlaq
Rabbani
Ajaran
akhlaq dalam islam bersumber dari wahyu Ilahi yang termasuk dalam al-Qur’an dan
Sunnah.
2.
Akhlaq
Manusiawi
Ajaran
akhlaq dalam islam sejalan dan memenuhi tuntunan fitrah manusia. Kerinduan jiwa
manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam
islam.
3.
Akhlaq
Universal
Ajaran
akhlaq dalam islam mencakup segala aspek kehidupan dalam islam, baik dalam
dimensi vertikal maupun horizontal. (QS. Al-An’am 6:151-152).
4.
Akhaq
Keseimbangan
Manusia memiliki naluriah hewani dan juga nuraniah
malaikat.
5. Akhaq Realistik
Ajaran akhlaq
dalam islam memperhatikan kenyataan hidup manusia.
BAB II
AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT
A. TAQWA
Definisi taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan
mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam surat
Ali-Imran ayat 102 Allah swt. Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya
bertaqwa kepada-Nya dengan maksimal, yaitu dengan mengerahkan semua potensi
yang dimiliki.
Seseorang
yang bertaqwa kepada Allah swt akan mendapat buahnya, yaitu mendapat sikap
furqan, mendapat limpahan berkah dari langit dan bumi, mendapat jalan keluar
dari kesulitan, mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga, mendapatkan kemudahan
dalam urusannya, dan menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta
mendapatkan pahala yang besar.
B. CINTA DAN RIDHA
Bagi seorang mukmin, cinta pertama diberikan kepada Allah swt. Sejalan dengan
cintanya kepada Allah, seorang mukmn akan mencintai Rasul dan jihad pada
jalan-Nya. Selanjutkan cinta dibawahnya adalah cinta kepada ibu bapak,
anak-anak, sanak saudara.
C. IKHLAS
Secara etimologis berasal dari kata khalasha
dengan ari bersih, jernih, murni. Secara terminologis adalah beramal
semata-mata mengharapkan ridha Allah swt. Keikhlasan memiliki tiga unsur, yaitu
niat yang ikhlas, beramal dengan sebaik-baiknya, dan pemanfaatan hasil usaha
yang tepat.. Lawan dari ikhlas adalah riya. Yaitu melakukan sesuatu
bukan karena Allah, tetapi ingin dipuji atau karena pamrih lainnya.
D. KHAUF DAN RAJA’
Khauf dan raja’ atau takut dan harap adalah
sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap muslim. Khauf adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu
yang tidak disukai yang akan menimpanya (QS. At-Taubah 9:13). Sedangkan raja’
adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan
datang (QS. Al-Baqarah 2:218).
E. TAWAKAL
Tawakal adalah membebaskan hati dari segala
ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya
kepada Allah (QS. Hud 11:123). Tawakal adalah salah satu buah dari keimanan.
Setiap orang yang berimana akan menyerahkan segala sesuatnuya kepada Allah swt dan
akan ridha dengan segala kehendak-Nya.
Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal(ikhtiar).
F. SYUKUR
Syukur ialah memuji si pemberi nikmat atas
kebaikan yang telah dilakukannya. Ada tiga dimensi syukur yaitu hati, lisan dan
jawarih(anggota badan).
G. MURAQABAH
Muraqabah berakar dari kata raqaba berarti
menjaga, mengawal, menanti, dan mengamati. Muraqabah adalah kesadaran seorang
muslim bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah swt. Muraqabah yang paling tinggi yaitu apabila
seseorang dalam beribadah kepada Allah bersikap seolah-olah dia dapat
melihat-Nya. Kesadaran akan pengawasan Allah swt. akan mendorong seorang muslim
untuk melakukan muhasabah(perhitungan, evaluasi) terhadap amal perbuatan.
H. TOBAT
Tobat berakar dari kata taba’ yang
berarti kembali. Orang yang bertobat
kepada Allah swt. adalah orang yang kembali dari larangan Allah menuju
perintah-Nya. Allah SWT Maha Penerima tobat. Betapapun besarnya dosa seorang
manusia, apabila dia bertobat, Allah pasti mengampuninya. Ada lima dimensi tobat,
yaitu menyadari kesalahan, menyesali kesalahan, memohon ampun kepada Allah swt,
berjanji tidak akan mengulanginya, dan menutupi kesalahan masa lalu dengn amal
saleh.
BAB III
AKHLAQ TERHADAP RASULULLAH SAWT
A. MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL
Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah swt tentu harus beriman
kepada nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang menjadi rahmat bagi alam
semesta.
B. MENGIKUTI DAN MENTAATI RASUL
Mengikuti Rasulullah (ittib’ ar-Rasul) adalah
salah satu bukti kecintaan seorang hamba terhadap Allah swt. (QS. Ali-Imran
3:31). Ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, karena taat kepada beliau
merupakan bagian dari taat kepada Allah swt. (QS. An-Nisa’ 4: 80). Ajaran
al-Qur’an dan Sunnah yang diwariskan oleh Rasulullah saw bersifat
komprehensif(mencakup seluruh aspek kehidupan).
C. MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM
Perintah bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw dalam QS.
Al-Ahzab 33: 56 diawali oleh Allah swt dengan pernyataan bahwa Allah dan para
malaikat-Nya bershalawat kepada beliau. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan
terhormatnya kedudukan beliau disisi Allah swt.
BAB IV
AKHLAQ PRIBADI
A. SHIDIQ
Shidiq (ash-sidqu) artinya benar dan jujur, lawan dari dusta atau
bohong (al-kazib).
Bentu-bentuk shidiq, yaitu:
1. Benar perkataan (shidiq al-hadist),
2. Benar pergaulan (shidiq al-mu’amalah),
3. Benar kemauan (shidiq al-‘azam),
4. Benar janji (shidiq al-wa’ad),
5. Benar kenyataan (sidiq al-hal),
Bentuk-bentuk
kebohongan yaitu Khianat, Ingkar janji, Kesaksian palsu, Fitnah dan Gunjing.
B. AMANAH
Amanah artinya dipercaya, seakar dengan
kata iman. Semakin menipis keimanan
seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya.
Bentuk-bentuk amanah
1. Memelihara titipan dan mengembalikannya
seperti semula
2. Menjaga rahasia
3. Tidak menyalahgunakan jabatan
4. Menunaikan kewajiban dengan baik
5. Memelihara semua nikmat yang diberikan
Allah
Lawan dari amanah adalah khianat. Allah
melarang orang-orang yang beriman mengkhianati Allah, Raul dan amanah mereka
sendiri. (QS. Al-Anfal 8:27)`
C. ISTIQAMAH
Secara etimologis berasal dari kata istiqama-yastaqimu,
yang berarti tegak lurus. Secara terminologi istiqamah adalah sikap teguh
dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam
tantangan dan godaan. Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam QS.
Fushshilat 41:6). Dalam QS. Al-Ankabut 29:4, dijelaskan bahwa setiap orang yang
mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian.
D. IFFAH
Secara etimologis, iffah adalah bentuk
masdar dari affa-ya’iffu-iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal
yang tidak baik. Dan juga berarti kesucian tubuh. Secara terminologis, affah
adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan,
merusak dan menjatuhkannya. Bentuk-bentuk iffah:
1. Untuk menjaga kehormatan diri dalam
hubungannya dengan masalah seksual (QS.An-Nur
24:30-31).
2. Untuk menjaga kehormatan diri dalam
hubungannya dengan masalah harta.
3. Untuk menjaga kehormatan diri dalam
hubungannya dengan kepercayaan orang lain.
E. MUJAHADAH
Istilah mujahadah berasal dari kata jahada-yujahidu-mujahadah-jihad
yang berarti mencurahkan segala kemampuan. Dalam konteks akhlaq, mujahadah adalah
mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang
menghambat pendekatan diri terhadap Allah swt.
1. Jiwa yang selalu mendorong seseorang untuk
melakukan kedurhakaan.
2. Hawa nafsu yang tidak terkendali.
3. Setan yang selalu menggoda umat manusia
untuk memperturutkan hawa nafsu.
4. Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan
sehingga mengalahkan kecintaan akhirat.
5. Orang-orang kafir dan munafik yang tidak
pernah berpuas hati sebelum orang yang beriman kembali menjadi kufur.
6. Para pelaku kemaksiatan dan kemunkaran,
termasuk dari orang yang mengaku beriman sendiri.
F. SYAJA’AH
Syaja’ah berarti berani, yaitu berani yang berlandaskan kebenaran yang
dilakukan dengan penuh pertimbangan. Keberanian tidaklah ditentukan oleh
kekuatan fisik, tetapi ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa. Jubun
atau penakut merupakan lawan dari sifat syaja’ah.
Bentuk-bentuk
keberanian
1. Keberanian menghadapi musuh dalma
peperangan ( jihad fi sabilillah).
2. Keberanian menyatakan kebenaran (kalimah
al-haq).
3. Keberanian untuk mengendalikan diri tatkala
marah, sekalipun dia mampu melampiaskannya.
G. TAWADHU’
Tawadhu
artinya rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Manusia adalah makhluk
lemah, yang membutuhkan karunia, ampunan dan rahmat dari Allah swt. sikap
tawadhu’ tidak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah, malah ia akan
dihormati dan dihargai.
H. MALU
Malu (al-haya’) adalah sifat atau perasaan
yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik.
Sifat malu adalah akhlaq terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran islam. Malu
adalah refleksi iman, semakin kuat iman seseorang maka semakin tebalah rasa
malunya. Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala
sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama.
I. SABAR
Secara etimologis, sabar (ash-shabr)
berarti menahan dan mengekang. Secara terminologis sabar berarti menahan diri
dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah swt.
macam-macam sabar, yaitu:
1. Sabar menerima cobaan hidup
2. Sabar dari keinginan hawa nafsu
3. Sabar dalam taat kepada Allah swt
4. Sabar dalam berdakwah
5. Sabar dalam perang
6. Sabar dalam pergaulan
Lawan dari sifat sabar adalah al-jaza’u yang
berarti gelisah, sedih, keluh kesah, cemas dan putus asa.
J. PEMAAF
Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf
terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan
untuk membalas. Secaraetimologis sabar (al-‘afwu) berarti kelebihan atau
yang berlebih. Islam mengajarkan untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain
tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah. Tindakan memberi maaf
sebaiknya diikuti dengan tindakan berlapang dada. Sedangkan lawan dari pemaaf
adalah dendam, yaitu menahan rasa permusuhan didalam hati dan menunggu
kesempatan untuk membalas.
BAB V
AKHLAQ DALAM KELUARGA
A. BIRRUL WALIDAIN
Birrul walidain terdiri dari kata birru artinya
kebajikan, al-walidain artinya
dua orang tua. Jadi Birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada
kedua orang tua.Kedudukan birrul walidain sangat istimewa, ada beberapa alasan
yang membuktikannya, yaitu:
1. Perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan
oleh Allah didalam Al-Qur’an. (QS. Al-Baqarah 2:83).
2. Allah swt mewasiatkan kepada umat manusia
untuk berbuat ihsan kepada orang tua.
3. Allah swt meletakkan perintah berterima
kasih kepada ibu bapak angsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah
swt.
4. Rasulullah saw meletakkan birrul
walidain sebagai amalan nomer dua terbaik sesudah salat tepat pada waktunya.
5. Rasulullah saw meletakkan ‘uququl
walidain (durhaka kepada orang tua) sebagai dosa besar nomor dua sesudah
syirik.
6. Rasulullah saw mengaitkan keridhaan dan
kemarahan Allah swt dengan keridhaan dan kemarahan orang tua.
Bentuk-bentuk birrul walidain
1. Mengikuti keinginan dan saran orang tua
dala berbagai aspek kehidupan.
2. Menghormati dan memuliakan kedua orang tua
dengan penuh rasa terima kasih.
3. Membantu ibu bapak secara fisik dan
material.
4. Mendoakan ibu bapak semoga diberi keampunan
dan rahmat oleh Allah swt
B. HAK, KEWAJIBAN DAN KASIH SAYANG SUAMI ISTRI
Salah satu tujuan perkawinan dalam islam adalah untuk mencari
ketentraman atau sakinah. Hal yang berperan membuat keluarga menjadi sakinah
ada dua faktor, yaitu mawadah dan rahmah. Terdapat empat kriteria
memilih pasangan hidup, yaitu harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya.
Hak-hak bersama suami isteri
1. Hak Tamattu’ Badani, yaitu pasangan suami
istri dapat saling menikmati hubungan seksul yang halal.
2. Hak Saling Mewarisi
3. Hak Nasab Anak, yaitu anak yang dilahirkan
dalam perkawinan adalah anak berdua`
Hak isteri atau wajiban suami ada empat
yaitu membayar mahar, memberikan nafkah, menggauli isteri dengan sebaik-baiknya
dan membimbing dan membina keagamaan isteri. Sedangkan hak suami atau kewajiban
isteri ada dua yaitu, patuh pada suami dan bergaul dengan suami dengan
sebaik-baiknya.
C. KASIH SAYANG DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA
TERHADAP ANAK
1. Hubungan tanggung jawab, yaitu anak anak
adalah amanah yang dititipkan oleh Allah swt kepada orang tua untuk dapat
dibesarkan dan dididik.
2. Hubungan kasih sayang, yaitu anak adalah
tempat orangtua mencurahkan kasih sayang.
3. Hubungan masa depan, yaitu anak adalah investasi masa depan di akhirat
orang tua.
Ada empat tipologi anak, yaitu anak sebagai
perhiasan hidup dunia, anak sebagai ujian, anak sebagai musuh, dan anak sebagai
cahaya mata. Anak saleh (qurratu ‘ayun) tidak dilahirkan, tetapi
dibentuk dan dibina lewat pendidikan. Pendidikan yang seimbang apabila
pendidikan memperhatikan seluruh aspek yang ada pada diri manusia yaitu hati,
akal dan fisik. Ada empat metode pendidikan Luqman al-Hakim, yaitu pendidikan
aqidah, pendidikan ibadah, pendidikan dakwah, dan pendidikan akhlaq.
D. SILATURAHIM DENGAN KARIB KERABAT
Istilah silaturrahim(shillathu ar-rahim) terdiri dari dua kata: shilah(hubungan,
sambungan) dan rahim(peranakan). Istilah ini adalah sebuah simbol dari
hubungan baik penuh kasih sayang antara sesama karib kerabat yang asal usulnya
berasal dari satu rahim. Ada beberapa bentuk silaturahim, yaitu berbuat baik(ihsan)
terutama dengan memberikan bantuan material untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, membagi sebagian dari harta warisan kepada karib kerabat, dan
memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang sesama kerabat.
Manfaat dari silaturrahim adalah mendapatkan rahmat, nikmat dan ihsan
dari Allah swt, masuk surga dan jauh dari neraka, dan diberikan kelapangan
rezeki dan panjang umur. Sedangkan apabila memutuskan silaturrahim, islam
mengancam dengan dosa yang besar (QS. Muhammad 47:22-23).
BAB VI
AKHLAQ BERMASYARAKAT
A. BERTAMU DAN MENERIMA TAMU
Adab bertamu ialah sebelum memasuki rumah
seseorang, hendaklah terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada
penghuni rumah. Sedangkan dalam menerima tamu harus memuliakan tamu tanpa
membeda-bedakan status sosial mereka.
B. HUBUNGAN BAIK DENGAN TETANGGA
Tetangga adalah orang yang paling dekat
setelah anggota sendiri. Tetanggalah yang diharapkan paling dahulu memberikan
bantuan jika kita membutuhkannya.
Rasulullah saw menjadikan sikap baik dengan tetangga sebagai ukuran dari
keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Seorang muslim harus peduli dan
memperhatikan tetangganya. Mengulurkan tangan untuk mengatasi kesulitan hidup yang
dihadapinya.
C. HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT
Untuk terciptanya hubungan baik sesama
muslim dalam masyarakat, setiap orang harus mengetahui hak dan kewajiban
masing-masing sebagai anggota masyarakat.
1. Menjawab salam
2. Mengunjungi orang sakit
3. Mengiringkan jenazah
4. Mengabulkan undangan
5. Menyahuti orang bersin
D. PERGAULAN MUDA-MUDI
1. Mengucapkan dan menjawab salam
Islam mengajarkan kepada sesama muslim
untuk saling bertukar salam apabila bertemu.
2. Berjabat tangan
Rasulullah mengajarkan bahwa untuk lebih
menyempurnakan salam dan menguatkan tali ukhuwah islamiyah, sebaiknya ucapan
salam diikuti dengan berjabatan tangan.
3. Khalwah
Rasulullah melarang berkhlawat, yaitu
berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak punya hubungan suami istri dan
tidak pula makhram tanpa ada orang ketiga.
E. UKHUWAH ISLAMIYAH
Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dengan
kokoh diperlukan empat tiang penyangga, yaitu Ta’aruf (saling kenal mengenal),
Tafahum (saling memahami kelebihan dan kekurangan), Ta’awun (saling
tolong-menolong), dan Takaful (saling memberikan jaminan).
BAB VII
AKHLAQ BERNEGARA
A. MUSYAWARAH
Musyawarah atau syura merupakan sesuatu
yang sangat penting guna menciptakan peraturan didalam masyarakat. Islam
menanamkan salah satu surat al-Qur’an dengan asy-Syura. Hal-hal yang sudah
ditetapkan oleh nash (al-Qur’an dan As-Sunnah) tidak boleh dimusyawarahkan,
sebab pendapat orang tidak boleh mengungguli wahyu. Jadi musyawarah sebatas
pada hal-hal yang bersifat ijtihadiyah. Ada beberapa sikap dalam bermusyawarah,
yaitu lemah lembut, pemaaf dan mohon ampunan Allah swt.
B. MENEGAKKAN KEADILAN
Istilah keadilan berasal dari kata ‘adl yang
artinya sama dan seimbang. Keadilan dapat diartikan dengan memberikan hal
seimbang dengan kewajiban atau memberi seseorang sesuai dengan kebutuhannya.
Islam mengajarkan bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dan sederajat
dalam hukum. Ada macam keadilan :
1. Adil terhadap diri sendiri
2. Adil terhadap isteri dan anak-anak
3. Adil dalam mendamaikan perselisihan
4. Adil dalam berkata
5. Adil terhadap musuh sekalipun
C. AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Secara harfiah berati menyuruh kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban
orang beriman, baik secara individual maupun kolektif.
D. HUBUNGAN PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN
Ada empat kriteria pemimpin,
yaitu:
1. Beriman kepada Allah swt
2. Mendirikan salat
3. Membayarkan zakat
4. Selalu tunduk patuh kepada Allah swt
Kepemimpimpinan Allah swt dan Rasul-Nya adalah
kepemimpinan yang mutlak diikuti dan dipatuhi. Sedangkan kepemimpinan orang-orang
yang beriman adalah kepemimpinan yang nisbi(relatif)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar