Senin, 08 Mei 2017



Review Buku Kuliah Akhlaq
BAB I. PENDAHULUAN
A.    Pengertian Akhlaq
Secara etimologis (lughatan) akhlaq(bahasa arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Secara terminologis (ishtilahan) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.
Di samping istilah akhlaq, dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlaq standarnya adalah al-qur’an dan sunnah; bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran; dan bagi moral standarnya adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.

B.     Sumber Akhlaq
Sumber akhlaq adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam konsep akhlaq, segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk semata-mata karena syara’ (Al-Qur’an dan Sunnah).
C.    Ruang Laingkup Akhlaq
1.      Akhlaq Pribadi
2.      Akhlaq Berkeluarga
3.      Akhlaq Bermasyarakat
4.      Akhlaq Bernegara
5.      Akhlaq beragama

D.    Kedudukan dan Keistimewaan Akhlaq dalam Islam

1.        Rasulullah saw menempatkan penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam.
Beliau bersabda, “ sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia,” (HR. Baihaqi).
2.      Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama islam
3.      Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan.
4.      Rasulullah saw menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya. Rasulullah saw bersabda,
5.      Islam menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dari ibadah kepada Allah swt.
Firman Allah swt, “... dan dirikanlah salat, sesngguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. (QS. Al-‘Ankabut 29:45).
6.      Nabi Muhammad saw selalu berdo’a agar Allah swt membaikkan akhlaq beliau.
7.      Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlaq.

E.     Ciri-ciri akhlaq dalam islam
1.      Akhlaq Rabbani
Ajaran akhlaq dalam islam bersumber dari wahyu Ilahi yang termasuk dalam al-Qur’an dan Sunnah.
2.      Akhlaq Manusiawi
Ajaran akhlaq dalam islam sejalan dan memenuhi tuntunan fitrah manusia. Kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam islam.
3.      Akhlaq Universal
Ajaran akhlaq dalam islam mencakup segala aspek kehidupan dalam islam, baik dalam dimensi vertikal maupun horizontal. (QS. Al-An’am 6:151-152).
4.      Akhaq Keseimbangan
Manusia memiliki naluriah hewani dan juga nuraniah malaikat.
5.      Akhaq Realistik
Ajaran akhlaq dalam islam memperhatikan kenyataan hidup manusia.
BAB II
AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT
A.    TAQWA
Definisi taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dalam surat Ali-Imran ayat 102 Allah swt. Memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya bertaqwa kepada-Nya dengan maksimal, yaitu dengan mengerahkan semua potensi yang dimiliki.
      Seseorang yang bertaqwa kepada Allah swt akan mendapat buahnya, yaitu mendapat sikap furqan, mendapat limpahan berkah dari langit dan bumi, mendapat jalan keluar dari kesulitan, mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga, mendapatkan kemudahan dalam urusannya, dan menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar.
B.     CINTA DAN RIDHA
Bagi seorang mukmin, cinta pertama diberikan kepada Allah swt. Sejalan dengan cintanya kepada Allah, seorang mukmn akan mencintai Rasul dan jihad pada jalan-Nya. Selanjutkan cinta dibawahnya adalah cinta kepada ibu bapak, anak-anak, sanak saudara.
C.     IKHLAS
Secara etimologis berasal dari kata khalasha dengan ari bersih, jernih, murni. Secara terminologis adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah swt. Keikhlasan memiliki tiga unsur, yaitu niat yang ikhlas, beramal dengan sebaik-baiknya, dan pemanfaatan hasil usaha yang tepat.. Lawan dari ikhlas adalah riya. Yaitu melakukan sesuatu bukan karena Allah, tetapi ingin dipuji atau karena pamrih lainnya.
D.    KHAUF DAN RAJA’
Khauf dan raja’ atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap muslim. Khauf  adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan menimpanya (QS. At-Taubah 9:13). Sedangkan raja’ adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan datang (QS. Al-Baqarah 2:218).
E.     TAWAKAL
Tawakal adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada Allah (QS. Hud 11:123). Tawakal adalah salah satu buah dari keimanan. Setiap orang yang berimana akan menyerahkan segala sesuatnuya kepada Allah swt dan akan ridha dengan segala kehendak-Nya.  Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal(ikhtiar).


F.      SYUKUR
Syukur ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Ada tiga dimensi syukur yaitu hati, lisan dan jawarih(anggota badan).
G.    MURAQABAH
Muraqabah berakar dari kata raqaba berarti menjaga, mengawal, menanti, dan mengamati. Muraqabah adalah kesadaran seorang muslim bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah swt.  Muraqabah yang paling tinggi yaitu apabila seseorang dalam beribadah kepada Allah bersikap seolah-olah dia dapat melihat-Nya. Kesadaran akan pengawasan Allah swt. akan mendorong seorang muslim untuk melakukan muhasabah(perhitungan, evaluasi) terhadap amal perbuatan.
H.    TOBAT
Tobat berakar dari kata taba’ yang berarti kembali.  Orang yang bertobat kepada Allah swt. adalah orang yang kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya. Allah SWT Maha Penerima tobat. Betapapun besarnya dosa seorang manusia, apabila dia bertobat, Allah pasti mengampuninya. Ada lima dimensi tobat, yaitu menyadari kesalahan, menyesali kesalahan, memohon ampun kepada Allah swt, berjanji tidak akan mengulanginya, dan menutupi kesalahan masa lalu dengn amal saleh.
BAB III
AKHLAQ TERHADAP RASULULLAH SAWT
A.    MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL
Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah swt tentu harus beriman kepada nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang menjadi rahmat bagi alam semesta.
B.     MENGIKUTI DAN MENTAATI RASUL
Mengikuti Rasulullah (ittib’ ar-Rasul) adalah salah satu bukti kecintaan seorang hamba terhadap Allah swt. (QS. Ali-Imran 3:31). Ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, karena taat kepada beliau merupakan bagian dari taat kepada Allah swt. (QS. An-Nisa’ 4: 80). Ajaran al-Qur’an dan Sunnah yang diwariskan oleh Rasulullah saw bersifat komprehensif(mencakup seluruh aspek kehidupan).
C.     MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM
Perintah bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw dalam QS. Al-Ahzab 33: 56 diawali oleh Allah swt dengan pernyataan bahwa Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada beliau. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan terhormatnya kedudukan beliau disisi Allah swt.

BAB IV
AKHLAQ PRIBADI
A.    SHIDIQ
Shidiq (ash-sidqu) artinya benar dan jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib).
Bentu-bentuk shidiq, yaitu:
1.      Benar perkataan (shidiq al-hadist),
2.      Benar pergaulan (shidiq al-mu’amalah),
3.      Benar kemauan (shidiq al-‘azam),
4.      Benar janji (shidiq al-wa’ad),
5.       Benar kenyataan (sidiq al-hal),
Bentuk-bentuk kebohongan yaitu Khianat, Ingkar janji, Kesaksian palsu, Fitnah dan Gunjing.

B.     AMANAH
Amanah artinya dipercaya, seakar dengan kata iman.  Semakin menipis keimanan seseorang semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya.
Bentuk-bentuk amanah
1.      Memelihara titipan dan mengembalikannya seperti semula
2.      Menjaga rahasia
3.      Tidak menyalahgunakan jabatan
4.      Menunaikan kewajiban dengan baik
5.      Memelihara semua nikmat yang diberikan Allah
Lawan dari amanah adalah khianat. Allah melarang orang-orang yang beriman mengkhianati Allah, Raul dan amanah mereka sendiri. (QS. Al-Anfal 8:27)`
C.     ISTIQAMAH
Secara etimologis berasal dari kata istiqama-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Secara terminologi istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam QS. Fushshilat 41:6). Dalam QS. Al-Ankabut 29:4, dijelaskan bahwa setiap orang yang mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian.
D.    IFFAH
Secara etimologis, iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik. Dan juga berarti kesucian tubuh. Secara terminologis, affah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya. Bentuk-bentuk iffah:
1.      Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah seksual  (QS.An-Nur 24:30-31).
2.      Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah harta.
3.      Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan kepercayaan orang lain.

E.     MUJAHADAH
Istilah mujahadah berasal dari kata jahada-yujahidu-mujahadah-jihad yang berarti mencurahkan segala kemampuan. Dalam konteks akhlaq, mujahadah adalah mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah swt.
1.      Jiwa yang selalu mendorong seseorang untuk melakukan kedurhakaan.
2.      Hawa nafsu yang tidak terkendali.
3.      Setan yang selalu menggoda umat manusia untuk memperturutkan hawa nafsu.
4.      Kecintaan terhadap dunia yang berlebihan sehingga  mengalahkan kecintaan akhirat.
5.      Orang-orang kafir dan munafik yang tidak pernah berpuas hati sebelum orang yang beriman kembali menjadi kufur.
6.      Para pelaku kemaksiatan dan kemunkaran, termasuk dari orang yang mengaku beriman sendiri.
F.      SYAJA’AH
Syaja’ah berarti berani, yaitu berani yang berlandaskan kebenaran yang dilakukan dengan penuh pertimbangan. Keberanian tidaklah ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa. Jubun atau penakut merupakan lawan dari sifat syaja’ah.
Bentuk-bentuk keberanian
1.      Keberanian menghadapi musuh dalma peperangan ( jihad fi sabilillah).
2.      Keberanian menyatakan kebenaran (kalimah al-haq).
3.      Keberanian untuk mengendalikan diri tatkala marah, sekalipun dia mampu melampiaskannya.
G.    TAWADHU’
Tawadhu artinya rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Manusia adalah makhluk lemah, yang membutuhkan karunia, ampunan dan rahmat dari Allah swt. sikap tawadhu’ tidak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah, malah ia akan dihormati dan dihargai.

H.    MALU
Malu (al-haya’) adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Sifat malu adalah akhlaq terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran islam. Malu adalah refleksi iman, semakin kuat iman seseorang maka semakin tebalah rasa malunya. Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama.
I.       SABAR
Secara etimologis, sabar (ash-shabr) berarti menahan dan mengekang. Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah swt. macam-macam sabar, yaitu:
1.      Sabar menerima cobaan hidup
2.      Sabar dari keinginan hawa nafsu
3.      Sabar dalam taat kepada Allah swt
4.      Sabar dalam berdakwah
5.      Sabar dalam perang
6.      Sabar dalam pergaulan
Lawan dari sifat sabar adalah al-jaza’u yang berarti gelisah, sedih, keluh kesah, cemas dan putus asa.
J.       PEMAAF
Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Secaraetimologis sabar (al-‘afwu) berarti kelebihan atau yang berlebih. Islam mengajarkan untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah. Tindakan memberi maaf sebaiknya diikuti dengan tindakan berlapang dada. Sedangkan lawan dari pemaaf adalah dendam, yaitu menahan rasa permusuhan didalam hati dan menunggu kesempatan untuk membalas.

BAB V
AKHLAQ DALAM KELUARGA
A.    BIRRUL WALIDAIN
Birrul walidain  terdiri dari kata birru artinya kebajikan, al-walidain  artinya dua orang tua. Jadi Birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua.Kedudukan birrul walidain sangat istimewa, ada beberapa alasan yang membuktikannya, yaitu:
1.      Perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan oleh Allah didalam Al-Qur’an. (QS. Al-Baqarah 2:83).
2.      Allah swt mewasiatkan kepada umat manusia untuk berbuat ihsan kepada orang tua.
3.      Allah swt meletakkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak angsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah swt.
4.      Rasulullah saw meletakkan birrul walidain sebagai amalan nomer dua terbaik sesudah salat tepat pada waktunya.
5.      Rasulullah saw meletakkan ‘uququl walidain (durhaka kepada orang tua) sebagai dosa besar nomor dua sesudah syirik.
6.      Rasulullah saw mengaitkan keridhaan dan kemarahan Allah swt dengan keridhaan dan kemarahan orang tua.
Bentuk-bentuk birrul walidain
1.      Mengikuti keinginan dan saran orang tua dala berbagai aspek kehidupan.
2.      Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh rasa terima kasih.
3.      Membantu ibu bapak secara fisik dan material.
4.      Mendoakan ibu bapak semoga diberi keampunan dan rahmat oleh Allah swt

B.     HAK, KEWAJIBAN DAN KASIH SAYANG SUAMI ISTRI
Salah satu tujuan perkawinan dalam islam adalah untuk mencari ketentraman atau sakinah. Hal yang berperan membuat keluarga menjadi sakinah ada dua faktor, yaitu mawadah dan rahmah. Terdapat empat kriteria memilih pasangan hidup, yaitu harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya.
Hak-hak bersama suami isteri
1.      Hak Tamattu’ Badani, yaitu pasangan suami istri dapat saling menikmati hubungan seksul yang halal.
2.      Hak Saling Mewarisi
3.      Hak Nasab Anak, yaitu anak yang dilahirkan dalam perkawinan adalah anak berdua`
Hak isteri atau wajiban suami ada empat yaitu membayar mahar, memberikan nafkah, menggauli isteri dengan sebaik-baiknya dan membimbing dan membina keagamaan isteri. Sedangkan hak suami atau kewajiban isteri ada dua yaitu, patuh pada suami dan bergaul dengan suami dengan sebaik-baiknya.
C.     KASIH SAYANG DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK
1.      Hubungan tanggung jawab, yaitu anak anak adalah amanah yang dititipkan oleh Allah swt kepada orang tua untuk dapat dibesarkan dan dididik.
2.      Hubungan kasih sayang, yaitu anak adalah tempat orangtua mencurahkan kasih sayang.
3.      Hubungan masa depan, yaitu  anak adalah investasi masa depan di akhirat orang tua.
Ada empat tipologi anak, yaitu anak sebagai perhiasan hidup dunia, anak sebagai ujian, anak sebagai musuh, dan anak sebagai cahaya mata. Anak saleh (qurratu ‘ayun) tidak dilahirkan, tetapi dibentuk dan dibina lewat pendidikan. Pendidikan yang seimbang apabila pendidikan memperhatikan seluruh aspek yang ada pada diri manusia yaitu hati, akal dan fisik. Ada empat metode pendidikan Luqman al-Hakim, yaitu pendidikan aqidah, pendidikan ibadah, pendidikan dakwah, dan pendidikan akhlaq.
D.    SILATURAHIM DENGAN KARIB KERABAT
Istilah silaturrahim(shillathu ar-rahim) terdiri dari dua kata: shilah(hubungan, sambungan) dan rahim(peranakan). Istilah ini adalah sebuah simbol dari hubungan baik penuh kasih sayang antara sesama karib kerabat yang asal usulnya berasal dari satu rahim. Ada beberapa bentuk silaturahim, yaitu berbuat baik(ihsan) terutama dengan memberikan bantuan material untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, membagi sebagian dari harta warisan kepada karib kerabat, dan memelihara dan meningkatkan rasa kasih sayang sesama kerabat.
Manfaat dari silaturrahim adalah mendapatkan rahmat, nikmat dan ihsan dari Allah swt, masuk surga dan jauh dari neraka, dan diberikan kelapangan rezeki dan panjang umur. Sedangkan apabila memutuskan silaturrahim, islam mengancam dengan dosa yang besar (QS. Muhammad 47:22-23).

BAB VI
AKHLAQ BERMASYARAKAT
A.    BERTAMU DAN MENERIMA TAMU
Adab bertamu ialah sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Sedangkan dalam menerima tamu harus memuliakan tamu tanpa membeda-bedakan status sosial mereka.
B.     HUBUNGAN BAIK DENGAN TETANGGA
Tetangga adalah orang yang paling dekat setelah anggota sendiri. Tetanggalah yang diharapkan paling dahulu memberikan bantuan jika kita membutuhkannya.  Rasulullah saw menjadikan sikap baik dengan tetangga sebagai ukuran dari keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Seorang muslim harus peduli dan memperhatikan tetangganya. Mengulurkan tangan untuk mengatasi kesulitan hidup yang dihadapinya.
C.     HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT
Untuk terciptanya hubungan baik sesama muslim dalam masyarakat, setiap orang harus mengetahui hak dan kewajiban masing-masing sebagai anggota masyarakat.
1.      Menjawab salam
2.      Mengunjungi orang sakit
3.      Mengiringkan jenazah
4.      Mengabulkan undangan
5.      Menyahuti orang bersin
D.    PERGAULAN MUDA-MUDI
1.      Mengucapkan dan menjawab salam
Islam mengajarkan kepada sesama muslim untuk saling bertukar salam apabila bertemu.
2.      Berjabat tangan
Rasulullah mengajarkan bahwa untuk lebih menyempurnakan salam dan menguatkan tali ukhuwah islamiyah, sebaiknya ucapan salam diikuti dengan berjabatan tangan. 
3.      Khalwah
Rasulullah melarang berkhlawat, yaitu berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak punya hubungan suami istri dan tidak pula makhram tanpa ada orang ketiga.

E.     UKHUWAH ISLAMIYAH
Supaya ukhuwah islamiyah dapat tegak dengan kokoh diperlukan empat tiang penyangga, yaitu Ta’aruf (saling kenal mengenal), Tafahum (saling memahami kelebihan dan kekurangan), Ta’awun (saling tolong-menolong), dan Takaful (saling memberikan jaminan).

BAB VII
AKHLAQ BERNEGARA

A.    MUSYAWARAH
Musyawarah atau syura merupakan sesuatu yang sangat penting guna menciptakan peraturan didalam masyarakat. Islam menanamkan salah satu surat al-Qur’an dengan asy-Syura. Hal-hal yang sudah ditetapkan oleh nash (al-Qur’an dan As-Sunnah) tidak boleh dimusyawarahkan, sebab pendapat orang tidak boleh mengungguli wahyu. Jadi musyawarah sebatas pada hal-hal yang bersifat ijtihadiyah. Ada beberapa sikap dalam bermusyawarah, yaitu lemah lembut, pemaaf dan mohon ampunan Allah swt.
B.     MENEGAKKAN KEADILAN
Istilah keadilan berasal dari kata ‘adl yang artinya sama dan seimbang. Keadilan dapat diartikan dengan memberikan hal seimbang dengan kewajiban atau memberi seseorang sesuai dengan kebutuhannya. Islam mengajarkan bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dan sederajat dalam hukum. Ada macam keadilan :
1.      Adil terhadap diri sendiri
2.      Adil terhadap isteri dan anak-anak
3.      Adil dalam mendamaikan perselisihan
4.      Adil dalam berkata
5.      Adil terhadap musuh sekalipun
C.     AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Secara harfiah berati menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.
Amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban orang beriman, baik secara individual maupun kolektif.

D.    HUBUNGAN PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN
 Ada empat kriteria pemimpin, yaitu:
1.      Beriman kepada Allah swt
2.      Mendirikan salat
3.      Membayarkan zakat
4.      Selalu tunduk patuh kepada Allah swt
Kepemimpimpinan Allah swt dan Rasul-Nya adalah kepemimpinan yang mutlak diikuti dan dipatuhi. Sedangkan kepemimpinan orang-orang yang beriman adalah kepemimpinan yang nisbi(relatif)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

review jurnal pendidikan