LIKA-LIKU
PERSAHABATAN
Sore ini langit terlihat indah dan mempesona, ditambah mega
merah yang menghiasi langit-langit yang mulai remang-remang. Sang mentari telah
berada diufuk barat, dan sebagian tubuhnya lenyap dari pemandangan. Terlihat
pula sejoli burung Merpati yang terbang rendah menambah suasana sore ini tambah
lebih indah. Kedua burung tersebut nampak bahagia dalam menjalani kehidupannya.
Seperti halnya tali persahabatan yang
telah dijalin oleh Rima dan Anis. Mereka tak dapat terpisahkan. Dimana Rima
berada pasti disitu ada Anis yang selalu menyertainya. Sejak SMP Rima bersahabat
akrab dengan Anis. Hingga sampai masuk SMA ini mereka sering belajar dan
bermain bersama. Kebetulan jarak antara rumah Rima dan Anis berdekatan. Maka
tak jarang jika Rima menginap di rumah
Anis untuk belajar bareng. Rima telah menganggap
Anis sebagai saudaranya sendiri. Begitupula sebaliknya. Ikatan tali
persaudaraan mereka yang sangat kuat, dapat
melewati gelombang masalah dan perselisihan.
Malam
ini Rima telah janjian dengan Anis, bahwa ia akan belajar bersama di rumahnya.
Setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, ia langsung melaju menuju rumah
Anis. Tak lama kemudian sampailah ia di ambang pintu rumah Anis. Rima
menghentikan langkahnya,mengambil nafas panjang sebelum mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum...”
sapanya
“Wa’alaikum
Salam...” jawab Anis sembari membuka pintu
“Mari
masuk, Rim...” ajaknya mempersilahkan masuk sahabatnya. Rima mengikuti langkah
Anis menuju ruang belajar.
Sesampainya
di ruang belajar, mereka pun langsung memulai mengerjakan tugasnya
masing-masing. Tak selang berapa lama mereka serius mengerjakan tugas, Rima
merasa mendapat kesukaran dalam mengerjakan soalnya. Lalu ia bertanya kepada
Anis dan Anispun menjawab perihal yang ditanyakan oleh sahabatnya dengan senang
hati.
Tak
terasa dua jam telah berlalu dan tugas mereka pun telah selesai. Setelah mereka
selesai membereskan buku-bukunya, merekapun duduk santai sambil menikmati
hidangan yang telah disajikan oleh ibunya Anis.
Sambil
menikmati makanannya, Rima memulai pembicaraan.
“Nis,
menurutmu wanita itu diperbolehkan memakai parfum nggak sih?”
“Ya...tergantung
pada tempat dan waktunya Rim..”
“Maksudnya
gimana?”
“Tergantung
kita memakainya kapan dan dimana, coba kamu ambil buku Fikih Sunah Wanita
itu,lalu coba kamu buka halaman 436.” Ujarnya sambil menunjuk rak buku di sudut
ruangan. Rimapun segera mengambilnya, kemudian ia membuka halaman yang dimaksud
sahabatnya. Rima membaca kalimat per kalimat dengan seksama. Anis dapat melihat
raut wajah sahabatnya berubah.
“Gimana
Rim?” tanyanya kemudian
“Masak
memakai parfum saja tidak diperbolehkan sih?” jawabnya penuh keheranan
“Ia
memang begitu Rim, disitu telah disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia
berkata, ‘Rasulullah SAW. Bersabda yang artinya wanita mana saja yang memakai
wewangian, lalu ia melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka
wanita tersebut dianggap wanita pezina’” Anis membacakan hadistnya.
“Mengapa
bisa demikian?”
“Karena
didalamnya mengandung unsur yang menarik syahwat, Rim.” Jelasnya.
Rima
terdiam meresapi perkataan sahabatnya. Sekarang ia telah mengerti dan faham
tentang hukum memakai parfum.
“Makasih
banget ya Nis, aku salut padamu..akan pengetahuanmu tentang agama islam. Aku
bangga punya sahabat yang pandai sepertimu Nis.” Sanjung Rima.
Anis
tersipu malu mendengar sanjungan sahabatnya itu,
“Ah...kamu
itu terlalu berlebihan menyanjungku , Nis”
Rima hanya tersenyum menatap wajah
sahabatnya yang tengah tersipu.
Persahabatan
mereka semenjak SMP kini masih terjalin sampai masuk SMK ini, dan beruntung
mereka bisa masuk sekolah yang sama dan berada dalam satu kelas. Banyak hal yang
telah mereka lewati bersama. Namun persahabatan tak selalu berjalan lurus,
terkadang perselisihan dan kesalahpahaman datang menghampiri mereka.
Di
sekolah barunya, Rima lebih cepat mendapat teman. Karena sikapnya yang ramah
dan mudah bergaul terhadap teman-teman barunya. Saat pergantian pengurus OSIS
baru, ia terpilih menjadi ketua OSIS. Itu dikarenakan karena banyak siswa yang
mengenal baik Rima.
Hari-hari
Rima dipenuhi dengan kegiatan dan organisasi di sekolahnya. Iapun menjadi salah
satu siswa terpenting. Kini ia jarang bisa belajar dan pulang sekolah bareng
Anis. Ia merasa tak enak hati dengan sahabatnya. Akan tetapi mau bagaimana
lagi?
Bel
pulang berdentang. Satu persatu siswa beranjak dari bangkunya dan meninggalkan
ruangan. Sampai akhirnya tinggallah Rima dan Anis.
“Anis...aku
minta maaf hari ini aku tak dapat pulang bersamamu lagi, ada rapat OSIS nih.” Ujarnya
dengan nada lesu.
“Iya...nggak
apa-apa Ma. Ya sudah aku pulang dulu” jawabnya singkat sambil berlalu
meninggalkan ruang kelas.
“Hati-hati
di jalan ya Nis...” teriak Rima dari dalam kelas.
‘’Ya
okey bray...’’ sahutnya Anis
“Assalamu’alaikum...ukhti
kenapa belum pulang?” tanya Sahrul sambil berjalan mendekatinya.
“Wa’alaikum
salam...ada rapat OSIS nih. Akhi sndiri?”
“Oh
gitu, mengambil buku yang tertinggal di laci, ukh. Tadi habis ngelamunin siapa
hayo?”
“Aku
lagi memikirkan Anis akh.. aku tak enak hati dengannya karena tidak bisa pulang
dengannya” Cerita Rima.
“hemz..
tapi kamu bilang mau ada rapat OSIS disekolahkan ?” tanya Sahrul penasaran.
“Setahuku
tidak, tapi sudahlah mungkin Anis lagi badmood,
akhi.” Jawabnya menentramkan hatinya.
“Sudah
dulu akh, aku sudah ditunggu teman-teman nih” tambahnya sembari menenteng
tasnya dan meninggalkan ruangan.
Rima
memandangi kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Anis ulang tahun tanggal 6 Oktober yang jatuh hari besok, sedangkan ia harus
mengikuti pelatihan basaha inggris di luar kota dihari yang sama. Ia bingung
memikirkannya. Sendih rasanya tak dapat menghadiri pesta ulang tahun
sahabatnya. Rima hanya dapat memberikan kado dan ucapan selamat lewat hp.
“Assalamu’alaikum
met ultah yang ke enam belas Anis...semoga tambah cantik, pintar, patuh dengan
orang tua, menjadi anak solehah dan mendapat umur panjang yang bermanfaat.
Amin.” Ujarnya ceria.
“Wa’aliakum
salam. Iya jazakillah Rima.” Jawabnya singkat.
“Aku
minta maaf Nis, tak dapat menghadiri acara di hari sspesialmu ini. Maaf jika
aku lebih mementingkan acaraku.” Ujarnya mulai meneteskan air mata.
“Iya
tak mengapa Ma, pasti acaramu ini lebih penting ketimbang hari ultahku.”
Ujarnya agak kecewa.
“Sudah
dulu ya...aku mau mandi nih.” Lanjut Anis
Belum sempat Rima menjawab,Kemudian
Anis terlebih dahulu mematikan teleponnya. Ia tsk sanggup lagi mendengar suara
sahabatnya yang akan membuat hatinya perih.
Anis
melemparkan hpnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menangis sambil
memeluk erat boneka beruang kado dari Rima tahun lalu. Hatinya sedih mendengar
suara sahabatnya tadi. Anis bukan menginginkan kado Rima, namun ia hanya
mengnginkan sahabatnya itu datang menemuinya. Ia ingin Rima mendampingi dirinya
saat meniup lilin nanti, ia juga akan memberikan sepotong kue tar yang pertama
kepada Rima. Kini harapannya telah pupus sudah, ia dapat merasakan betapa sepinya
pesta nanti tanpa kehadirannnya.
Rima...apakah
kini kau tak menganggapku sebagai sahabatmu lagi. Kini kau telah pergi jauh
meninggalkanku dalam sepiku. Andai kau tau diri ini senyap tanpa senyuman
manismu. Aku rindu akan kebersamaan kita seperti dulu. Apakah kini aku tak
pantas lagi menjadi sahabatmu? Apakah kini kau telah bosan denganku? Jika
memang benar begitu, akan aku coba menerima kenyataan pahit ini. Aku rela
melepasmu jika dapat membuatmu senang.
Semoga engkau bahagia bersama teman barumu yang mungkin lebih baik dan
hebat dariku.
Kata-kata
inilah yang Anis tulis di sebuah buku yang ia dapat di samping bantal. Sampai
kertasnya penuh dengan butiran-butiran bekas air matanya yang sedari tadi
menetes.
Usai
pelatihan bahasa inggris, Rima hanya duduk terdiam dalam ruangan. Ia tak ikut
bersama teman-temannya untuk mengelilingi sekolah yang sedang ia kunjungi. Ia
tak tertarik dengan keindahan dan kemegahan gedung sekolah ini. Pikirannya
tertuju pada sahabatnya, Anis. masih teriang-iang di telinganya ucapan Anis
lewat telepon tadi pagi. Betapa dinginnya sikap Anis menananggapi
pembicaraannya. Sebegitu besarnya rasa kecewanya Anis denganku. Andai ia dapat
terbang, saat ini juga ia akan terbang ke tempat Anis berada. Namun ia sadar
itu hal yang mustahil.
Sore
ini Rima berniat berkunjung ke rumah Anis, namun yang ia dapatkan hanyalah
kekecewaan. Anis mengatakan bahwa sedang sibuk membantu ibunya membuat kue.
“Anis...sore
ini akan main kerumahmu, boleh kan?” tanyanya saat menelpon sahabatnya.
“Emz..gimana
ya Ma, soalnya aku mau membantu ibuku membuat kue” jawabnya membuat alasan.
“Kebetulan
banget, nanti aku bisa ikut membantu.” Ujarnya bersemangat.
“lain
kali saja rim, toh kamu juga baru pulang pasti masih capek.”
“Ya
sudah jika ini keinginanmu Nis. Andai kau tau betapa rindunya aku padamu. Met
siang” Sambil mematikan telepon.
Akupun
rindu sekali denganmu Rima. Namun saat ini belum sanggup untuk bertemu
denganmu. Akuminta maaf jika tadi aku telah berbohong denganmu, itu hanya
alasnku saja. Katanya dalam hati.
Begitu
pula di sekolah, Anis selalu menghindar dari Rima. Ia sering menghabiskan waktu
istirahatnya di masjid maupun di perpustakaaan. Ia tak mau berlama-lama dekat
dengan Rima, karena hanya akan membuat hatinya sakit. Ia pun jarang menyapa
Rima, mungkin hanya sekedar melempar tersenyum.
Pelajaran
matematika telah berakhir, dan dilanjutkan dengan bahasa inggris. Pak Fatah,
guru bahasa inggrisnya membagikan buku yang telah dikumpulkan kemarin lusa.
Beliau membagi bukunya secara acak agar dikoreksi siswa. Kebetulan Rima
mendapatkan buku milik Anis. tak sengaja ia membuka lembar paling belakang, dan
membaca tulisan yang Anis tulis waktu itu. Ia terdiam seketika kini ia mulai
mengerti mengapa sikap sahabatnya yang akhir-akhir ini berubah setelah
pelajaran berakhir ia mendekati Anis untuk meminta maaf.
“Nis
aku tak sengaja membaca tulisan yang kamu tulis dibuku bahasa inggrismu.”
Anis terdiam, ia teringat pada tulisan
yang ia tulis waktu itu tapi ia tak sadar telah menulisnya di buku bahasa
inggris. Dalam diamnya Rima memeluk Anis dan berkata.
“Nis,
maafkan aku selama ini terlalu sibuk pada kegiatanku sampai tak ada waktu untuk
kita. Aku mengerti tentsng perasaanmu melihat keadaan aku yang semakin sibuk
seperti ini, tapi aku tak ada niat untuk menghapus kebersamaan dan persahabatan
kita selama ini Nis..’’ kata Rima.
“Sudahlah
tidak usah terlalu merasa bersalah padaku, aku juga mengerti tentang kegiatanmu
yang penting sekarang aku pengen kita kayak dulu lagi, meskipun kita tidak akan
selalu bersama karena terhalang dengan kegiatan masing-masing kita, kita tetap
sahabatkan?” ujar Anis dengan sedikit air mata yang keluar dari pelupuk
matanya.
“Kita
tetap bersahabat Anis, satu untuk selamanya...okey” sahut Rima sambil
tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar