Selasa, 09 Mei 2017

karya lama



LIKA-LIKU PERSAHABATAN


            Sore ini langit terlihat indah dan mempesona, ditambah mega merah yang menghiasi langit-langit yang mulai remang-remang. Sang mentari telah berada diufuk barat, dan sebagian tubuhnya lenyap dari pemandangan. Terlihat pula sejoli burung Merpati yang terbang rendah menambah suasana sore ini tambah lebih indah. Kedua burung tersebut nampak bahagia dalam menjalani kehidupannya.
          Seperti halnya tali persahabatan yang telah dijalin oleh Rima dan Anis. Mereka tak dapat terpisahkan. Dimana Rima berada pasti disitu ada Anis yang selalu menyertainya. Sejak SMP Rima bersahabat akrab dengan Anis. Hingga sampai masuk SMA ini mereka sering belajar dan bermain bersama. Kebetulan jarak antara rumah Rima dan Anis berdekatan. Maka tak  jarang jika Rima menginap di rumah Anis untuk belajar bareng. Rima telah  menganggap Anis sebagai saudaranya sendiri. Begitupula sebaliknya. Ikatan tali persaudaraan mereka yang sangat kuat, dapat  melewati gelombang masalah dan perselisihan.

  Malam ini Rima telah janjian dengan Anis, bahwa ia akan belajar bersama di rumahnya. Setelah mendapat izin dari kedua orang tuanya, ia langsung melaju menuju rumah Anis. Tak lama kemudian sampailah ia di ambang pintu rumah Anis. Rima menghentikan langkahnya,mengambil nafas panjang sebelum mengucapkan salam.
          “Assalamu’alaikum...” sapanya                         
          “Wa’alaikum Salam...” jawab Anis sembari membuka pintu
          “Mari masuk, Rim...” ajaknya mempersilahkan masuk sahabatnya. Rima mengikuti langkah Anis menuju ruang belajar.
          Sesampainya di ruang belajar, mereka pun langsung memulai mengerjakan tugasnya masing-masing. Tak selang berapa lama mereka serius mengerjakan tugas, Rima merasa mendapat kesukaran dalam mengerjakan soalnya. Lalu ia bertanya kepada Anis dan Anispun menjawab perihal yang ditanyakan oleh sahabatnya dengan senang hati.
          Tak terasa dua jam telah berlalu dan tugas mereka pun telah selesai. Setelah mereka selesai membereskan buku-bukunya, merekapun duduk santai sambil menikmati hidangan yang telah disajikan oleh ibunya Anis.
          Sambil menikmati makanannya, Rima memulai pembicaraan.       
          “Nis, menurutmu wanita itu diperbolehkan memakai parfum nggak sih?”
          “Ya...tergantung pada tempat dan waktunya Rim..”
          “Maksudnya gimana?”
          “Tergantung kita memakainya kapan dan dimana, coba kamu ambil buku Fikih Sunah Wanita itu,lalu coba kamu buka halaman 436.” Ujarnya sambil menunjuk rak buku di sudut ruangan. Rimapun segera mengambilnya, kemudian ia membuka halaman yang dimaksud sahabatnya. Rima membaca kalimat per kalimat dengan seksama. Anis dapat melihat raut wajah sahabatnya berubah.
          “Gimana Rim?” tanyanya kemudian
          “Masak memakai parfum saja tidak diperbolehkan sih?” jawabnya penuh keheranan
          “Ia memang begitu Rim, disitu telah disebutkan dari Abu Musa Al-Asy’ari ra., ia berkata, ‘Rasulullah SAW. Bersabda yang artinya wanita mana saja yang memakai wewangian, lalu ia melewati suatu kaum agar mereka mencium wanginya, maka wanita tersebut dianggap wanita pezina’” Anis membacakan hadistnya.
          “Mengapa bisa demikian?”
          “Karena didalamnya mengandung unsur yang menarik syahwat, Rim.” Jelasnya.
          Rima terdiam meresapi perkataan sahabatnya. Sekarang ia telah mengerti dan faham tentang hukum memakai parfum.
          “Makasih banget ya Nis, aku salut padamu..akan pengetahuanmu tentang agama islam. Aku bangga punya sahabat yang pandai sepertimu Nis.” Sanjung Rima.
          Anis tersipu malu mendengar sanjungan sahabatnya itu,
          “Ah...kamu itu terlalu berlebihan menyanjungku , Nis”
Rima hanya tersenyum menatap wajah sahabatnya yang tengah tersipu.

          Persahabatan mereka semenjak SMP kini masih terjalin sampai masuk SMK ini, dan beruntung mereka bisa masuk sekolah yang sama dan berada dalam satu kelas. Banyak hal yang telah mereka lewati bersama. Namun persahabatan tak selalu berjalan lurus, terkadang perselisihan dan kesalahpahaman datang menghampiri mereka.
          Di sekolah barunya, Rima lebih cepat mendapat teman. Karena sikapnya yang ramah dan mudah bergaul terhadap teman-teman barunya. Saat pergantian pengurus OSIS baru, ia terpilih menjadi ketua OSIS. Itu dikarenakan karena banyak siswa yang mengenal baik Rima.
          Hari-hari Rima dipenuhi dengan kegiatan dan organisasi di sekolahnya. Iapun menjadi salah satu siswa terpenting. Kini ia jarang bisa belajar dan pulang sekolah bareng Anis. Ia merasa tak enak hati dengan sahabatnya. Akan tetapi mau bagaimana lagi?
          Bel pulang berdentang. Satu persatu siswa beranjak dari bangkunya dan meninggalkan ruangan. Sampai akhirnya tinggallah Rima dan Anis.
          “Anis...aku minta maaf hari ini aku tak dapat pulang bersamamu lagi, ada rapat OSIS nih.” Ujarnya dengan nada lesu.
          “Iya...nggak apa-apa Ma. Ya sudah aku pulang dulu” jawabnya singkat sambil berlalu meninggalkan ruang kelas.
          “Hati-hati di jalan ya Nis...” teriak Rima dari dalam kelas.
          ‘’Ya okey bray...’’ sahutnya Anis
          “Assalamu’alaikum...ukhti kenapa belum pulang?” tanya Sahrul sambil berjalan mendekatinya.
          “Wa’alaikum salam...ada rapat OSIS nih. Akhi sndiri?”
          “Oh gitu, mengambil buku yang tertinggal di laci, ukh. Tadi habis ngelamunin siapa hayo?”
          “Aku lagi memikirkan Anis akh.. aku tak enak hati dengannya karena tidak bisa pulang dengannya” Cerita Rima.
          “hemz.. tapi kamu bilang mau ada rapat OSIS disekolahkan ?” tanya Sahrul penasaran.
          “Setahuku tidak, tapi sudahlah mungkin Anis lagi badmood, akhi.” Jawabnya menentramkan hatinya.
          “Sudah dulu akh, aku sudah ditunggu teman-teman nih” tambahnya sembari menenteng tasnya dan meninggalkan ruangan.

          Rima memandangi kalender yang tergantung di dinding kamarnya.  Anis ulang tahun tanggal 6 Oktober yang  jatuh hari besok, sedangkan ia harus mengikuti pelatihan basaha inggris di luar kota dihari yang sama. Ia bingung memikirkannya. Sendih rasanya tak dapat menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya. Rima hanya dapat memberikan kado dan ucapan selamat lewat hp.
          “Assalamu’alaikum met ultah yang ke enam belas Anis...semoga tambah cantik, pintar, patuh dengan orang tua, menjadi anak solehah dan mendapat umur panjang yang bermanfaat. Amin.” Ujarnya ceria.
          “Wa’aliakum salam. Iya jazakillah Rima.” Jawabnya singkat.
          “Aku minta maaf Nis, tak dapat menghadiri acara di hari sspesialmu ini. Maaf jika aku lebih mementingkan acaraku.” Ujarnya mulai meneteskan air mata.
          “Iya tak mengapa Ma, pasti acaramu ini lebih penting ketimbang hari ultahku.” Ujarnya agak kecewa.
          “Sudah dulu ya...aku mau mandi nih.” Lanjut Anis
Belum sempat Rima menjawab,Kemudian Anis terlebih dahulu mematikan teleponnya. Ia tsk sanggup lagi mendengar suara sahabatnya yang akan membuat hatinya perih.
          Anis melemparkan hpnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Ia menangis sambil memeluk erat boneka beruang kado dari Rima tahun lalu. Hatinya sedih mendengar suara sahabatnya tadi. Anis bukan menginginkan kado Rima, namun ia hanya mengnginkan sahabatnya itu datang menemuinya. Ia ingin Rima mendampingi dirinya saat meniup lilin nanti, ia juga akan memberikan sepotong kue tar yang pertama kepada Rima. Kini harapannya telah pupus sudah, ia dapat merasakan betapa sepinya pesta nanti tanpa kehadirannnya.
           
          Rima...apakah kini kau tak menganggapku sebagai sahabatmu lagi. Kini kau telah pergi jauh meninggalkanku dalam sepiku. Andai kau tau diri ini senyap tanpa senyuman manismu. Aku rindu akan kebersamaan kita seperti dulu. Apakah kini aku tak pantas lagi menjadi sahabatmu? Apakah kini kau telah bosan denganku? Jika memang benar begitu, akan aku coba menerima kenyataan pahit ini. Aku rela melepasmu jika dapat membuatmu senang.  Semoga engkau bahagia bersama teman barumu yang mungkin lebih baik dan hebat dariku.
          Kata-kata inilah yang Anis tulis di sebuah buku yang ia dapat di samping bantal. Sampai kertasnya penuh dengan butiran-butiran bekas air matanya yang sedari tadi menetes.
         
          Usai pelatihan bahasa inggris, Rima hanya duduk terdiam dalam ruangan. Ia tak ikut bersama teman-temannya untuk mengelilingi sekolah yang sedang ia kunjungi. Ia tak tertarik dengan keindahan dan kemegahan gedung sekolah ini. Pikirannya tertuju pada sahabatnya, Anis. masih teriang-iang di telinganya ucapan Anis lewat telepon tadi pagi. Betapa dinginnya sikap Anis menananggapi pembicaraannya. Sebegitu besarnya rasa kecewanya Anis denganku. Andai ia dapat terbang, saat ini juga ia akan terbang ke tempat Anis berada. Namun ia sadar itu hal yang mustahil.
         
          Sore ini Rima berniat berkunjung ke rumah Anis, namun yang ia dapatkan hanyalah kekecewaan. Anis mengatakan bahwa sedang sibuk membantu ibunya membuat kue.
          “Anis...sore ini akan main kerumahmu, boleh kan?” tanyanya saat menelpon sahabatnya.
          “Emz..gimana ya Ma, soalnya aku mau membantu ibuku membuat kue” jawabnya membuat alasan.
          “Kebetulan banget, nanti aku bisa ikut membantu.” Ujarnya bersemangat.
          “lain kali saja rim, toh kamu juga baru pulang pasti masih capek.”
          “Ya sudah jika ini keinginanmu Nis. Andai kau tau betapa rindunya aku padamu. Met siang” Sambil mematikan telepon.
          Akupun rindu sekali denganmu Rima. Namun saat ini belum sanggup untuk bertemu denganmu. Akuminta maaf jika tadi aku telah berbohong denganmu, itu hanya alasnku saja. Katanya dalam hati.

          Begitu pula di sekolah, Anis selalu menghindar dari Rima. Ia sering menghabiskan waktu istirahatnya di masjid maupun di perpustakaaan. Ia tak mau berlama-lama dekat dengan Rima, karena hanya akan membuat hatinya sakit. Ia pun jarang menyapa Rima, mungkin hanya sekedar melempar tersenyum.
          Pelajaran matematika telah berakhir, dan dilanjutkan dengan bahasa inggris. Pak Fatah, guru bahasa inggrisnya membagikan buku yang telah dikumpulkan kemarin lusa. Beliau membagi bukunya secara acak agar dikoreksi siswa. Kebetulan Rima mendapatkan buku milik Anis. tak sengaja ia membuka lembar paling belakang, dan membaca tulisan yang Anis tulis waktu itu. Ia terdiam seketika kini ia mulai mengerti mengapa sikap sahabatnya yang akhir-akhir ini berubah setelah pelajaran berakhir ia mendekati Anis untuk meminta maaf.
          “Nis aku tak sengaja membaca tulisan yang kamu tulis dibuku bahasa inggrismu.”
Anis terdiam, ia teringat pada tulisan yang ia tulis waktu itu tapi ia tak sadar telah menulisnya di buku bahasa inggris. Dalam diamnya Rima memeluk Anis dan berkata.
          “Nis, maafkan aku selama ini terlalu sibuk pada kegiatanku sampai tak ada waktu untuk kita. Aku mengerti tentsng perasaanmu melihat keadaan aku yang semakin sibuk seperti ini, tapi aku tak ada niat untuk menghapus kebersamaan dan persahabatan kita selama ini Nis..’’ kata Rima.
          “Sudahlah tidak usah terlalu merasa bersalah padaku, aku juga mengerti tentang kegiatanmu yang penting sekarang aku pengen kita kayak dulu lagi, meskipun kita tidak akan selalu bersama karena terhalang dengan kegiatan masing-masing kita, kita tetap sahabatkan?” ujar Anis dengan sedikit air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
          “Kita tetap bersahabat Anis, satu untuk selamanya...okey” sahut Rima sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

review jurnal pendidikan